Sutradara dan Pemain Tak Mudah Garap Ulang The Intern

Sutradara dan Pemain Tak Mudah Garap Ulang The Intern

Sutradara dan Pemain Tak Mudah Garap Ulang The Intern

Sutradara dan Pemain Tak Mudah Garap Ulang The InternThe Intern hadir kembali dalam balutan budaya Korea yang segar. Namun, perjalanan kreatif ini menyimpan kompleksitas luar biasa. Sutradara Kim Hyeong-seok mengakui bahwa menggarap ulang film ikonik bukanlah sekadar menyalin adegan. Ia justru merasa terbebani oleh bayang-bang besar film aslinya yang dibintangi Anne Hathaway dan Robert De Niro. Lebih dari itu, para pemain pun harus berjuang melepaskan diri dari gaya akting versi Amerika. Mereka ingin menghadirkan jiwa baru yang otentik, tanpa kehilangan esensi hangat dari kisah aslinya.

The Intern versi Korea menyodorkan tantangan budaya yang unik. Sutradara Kim menjelaskan bahwa humor dan dinamika senior-junior di kantor Korea sangat berbeda. Karena itu, ia harus menulis ulang banyak dialog agar terasa natural. Termasuk mengubah setting perusahaan mode online menjadi platform e-commerce lokal. Proses ini memakan waktu berbulan-bulan, terutama untuk menemukan keseimbangan antara kesetiaan pada naskah asli dan kebutuhan pasar Korea. Selain itu, ia pun harus berunding dengan penulis naskah asli Nancy Meyers untuk mendapatkan izin adaptasi yang longgar.

Memahami Karakter dengan Pendekatan Baru

The Intern menuntut transformasi karakter yang mendalam. Aktris Lee Young-ae, yang memerankan CEO Miso, mengaku kesulitan meniru ketegasan Miranda Priestly dari The Devil Wears Prada. Justru ia lebih terinspirasi oleh kehangatan tersembunyi karakter Jules Ostin. Ia rajin berdiskusi dengan pekerja kantor sungguhan untuk menangkap nuansa pemimpin wanita di Korea. Dari situ, ia menemukan keunikan gaya: tegas di depan banyak orang, namun ragu-ragu saat menghadapi konflik internal. Proses ini membantunya tampil lebih manusiawi, bukan sekadar tiruan.

Sementara itu, aktor veteran Park Hae-il memerankan karakter Ben Whittaker yang awalnya diperankan Robert De Niro. Park mengaku bahwa tantangan terbesar justru menghapus kharisma alami De Niro dari ingatannya. Ia memilih untuk fokus pada detail kecil, seperti cara berjalan dan kebiasaan merapikan dasi. Park juga menambahkan dialog improvisasi yang khas Korea, seperti menawarkan minuman soju kepada rekan kerja. Hasilnya, penonton merasakan kehangatan yang berbeda namun tetap menyentuh. Bahkan, sutradara Kim menganggap performa Park lebih berlapis karena ia tidak pernah meniru ekspresi wajah aslinya.

Proses Syuting yang Penuh Penyesuaian

The Intern versi Korea melakukan syuting di lokasi nyata, bukan studio. Hal ini memberikan keuntungan sekaligus hambatan. Tim produksi harus beradaptasi dengan cuaca ekstrem Seoul yang berubah-ubah. Misalnya, adegan di taman kota harus diulang lima kali karena hujan mendadak. Mereka juga harus meminta izin kepada puluhan pemilik toko untuk syuting di kawasan Myeongdong. Namun, sutradara Kim justru bersyukur karena latar asli membuat akting para pemain lebih hidup. Suasana riuh pasar tradisional juga menambah tekstur visual yang tidak bisa direplikasi di studio.

Selain lokasi, kostum dan properti juga menjadi perhatian serius. Desainer kostum Lee Ji-yeon mengaku harus membuat 40 set pakaian kerja untuk Lee Young-ae. Ia meneliti tren fesyen Korea agar karakter Miso terlihat otoriter namun tetap stylish. Untuk Park Hae-il, ia memilih setelan khas kakek generasi baby boomer, termasuk topi fedora dan kacamata baca. Padahal, gaya ini jarang dipakai di Korea modern. Justru karena itu, karakter Ben terlihat menonjol dan mengundang simpati. Setiap aksesori pun diperdebatkan dengan sutradara, termasuk tas kulit yang selalu dibawa Ben.

Menemukan Nuansa Humor yang Berbeda

The Intern original mengandalkan humor verbal yang cerdas. Namun, versi Korea harus mengubah lelucon agar cocok dengan selera lokal. Sutradara Kim memasukkan elemen slapstick yang lebih fisik, seperti adegan Ben jatuh dari sepeda atau salah mengambil pakaian atasan. Ia juga menambahkan karakter komedian Kang Ki-young sebagai karyawan gugup yang sering membuat salah paham. Hal ini tidak ada di film aslinya. Ternyata, penonton Korea merespons positif karena mereka lebih suka humor visual daripada dialog sarkastik.

Para pemain juga saling beradu akting untuk menciptakan timing komedi yang pas. Mereka sering mengadakan workshop improvisasi di luar jam syuting. Salah satu adegan lucu yang terkenal yaitu saat Ben mencoba menggunakan aplikasi video call, tetapi malah memanggil kucing. Adegan ini sebenarnya lahir dari ide Park Hae-il yang tidak sengaja menekan tombol kamera depam. Sutradara Kim langsung menyukainya dan memasukkannya ke dalam naskah final. Dengan cara ini, humor terasa organik dan tidak dipaksakan.

Menghadapi Ekspektasi Penonton dan Kritikus

The Intern versi Korea tidak luput dari perbandingan dengan film aslinya. Banyak kritikus awalnya meragukan kemampuan Lee Young-ae dalam berakting komedi. Mereka menganggapnya terlalu serius untuk peran yang canggung. Namun, perilisan trailer pertama justru mematahkan keraguan itu. Sutradara Kim pun mengakui bahwa tekanan dari penggemar setia Hollywood menjadi beban tersendiri. Ia selalu membuka diskusi publik setelah pemutaran perdana untuk mendengar masukan. Hal ini membantunya memperbaiki beberapa bagian sebelum dirilis secara luas.

Setelah tayang di bioskop Korea Selatan, film ini meraih 2,3 juta penonton dalam tiga minggu. Angka ini cukup impresif untuk film adaptasi asing. Namun, beberapa kritik tetap datang, terutama tentang durasi yang dianggap terlalu panjang. Sutradara Kim kemudian merilis versi extended di platform streaming dengan tambahan 15 menit adegan. Menariknya, versi ini justru mendapat pujian karena pengembangan karakter lebih dalam. Pelajaran yang ia petik yaitu tidak semua keputusan bisa memuaskan semua orang, tetapi mendengarkan audiens adalah kunci.

Warisan The Intern bagi Sinema Korea

The Intern versi Korea membuka jalan bagi adaptasi film Barat lainnya. Banyak studio kini mulai berani membeli lisensi remake setelah melihat kesuksesan ini. Para pembuat film juga semakin berani mengambil risiko mengubah plot inti agar sesuai budaya lokal. Misalnya, produser Showbox sudah mengumumkan akan menggarap ulang film drama The Devils Advocate dengan latar chaebol Korea. Hal ini membuktikan bahwa pasar Korea tidak sekadar menerima produk jadi, tetapi ingin berkolaborasi secara kreatif. Sutradara Kim berharap tren ini terus berkembang.

Lebih penting lagi, film ini mengajarkan tentang nilai antargenerasi di tempat kerja. Di Korea yang terkena budaya hierarki, hubungan Ben dan Miso menjadi simbol kolaborasi lintas usia. Adegan ketika Ben mengajari karyawan muda menggunakan mesin fotokopi justru dianggap sangat mengharukan. Banyak perusahaan Korea bahkan memutar film ini sebagai bahan pelatihan internal. Mereka ingin mengurangi kesenjangan antara pekerja senior dan junior. Dengan begitu, film ini tidak hanya menghibur, tetapi juga memberikan dampak sosial nyata.

Penutup: Sebuah Karya yang Layak Diapresiasi

The Intern versi Korea bukan sekadar daur ulang komersial. Ia berhasil menghadirkan cerita yang relevan dan hangat bagi penonton modern. Meski menyandang judul yang sama, film ini berdiri sendiri sebagai karya seni. Para pemain dan sutradara telah membuktikan bahwa kerja keras dan kemauan untuk beradaptasi akan menghasilkan sesuatu yang istimewa. Jadi, jangan ragu untuk menontonnya dan bandingkan sendiri dengan versi aslinya. Anda mungkin akan menemukan bahwa pesan tentang persahabatan dan keberanian memang universal.

Bagi yang ingin mendalami sejarah film aslinya, kunjungi The Intern (film 2015). Anda juga bisa membaca tentang sutradara aslinya dan aktor utamanya di Wikipedia. Selamat menelusuri lebih dalam proses kreatif di balik layar.

Baca Juga:
Pemakaman Dolly Parton Sederhana & Tertutup

Tinggalkan Balasan